Minggu, 29 Oktober 2017

INTERAKSI PREDASI IKAN TERI

“INTERAKSI PREDASI TERI (Stolephorus spp.) SELAMA PROSES PENANGKAPAN IKAN DENGAN BAGAN RAMBO:HUBUNGANNYA DENGAN KELIMPAHAN PLANKTON”





OLEH :
TRINANDA ZULMI
160254241029




PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN
FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN
UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI
TANJUNGPINANG
2017


ABSTRAK
            Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis interaksi pemangsaan teri (Stolephorus spp.) selama proses penangkapan ikan dengan bagan rambo dan keterkaitannya dengan hasil tangkapan dan kelimpahan plankton. Penelitian dilaksanakan dari bulan Mei sampai Juli 2005, di Selat Makassar perairan Kabupaten Barru Provinsi Sulawesi Selatan. Pengambilan data lapangan dilakukan pada malam hari mengikuti operasi penangkapan ikan 1 unit bagan rambo pada 8 stasion penelitan dalam waktu dan tempat yang berbeda. Pada setiap stasion penelitian dilakukan pengambilan sampel air laut untuk pengamatan plankton, pengambilan sampel ikan untuk identifikasi dan analisis interaksi pemangsaan dan mencatat komposisi dan jumlah tangkapan ikan pada setiap waktu hauling.
            Interkasi pemangsaan teri selama proses penangkapan ikan dengan bagan rambo terjadi ketika teri memangsa plankton dan dimangsa oleh beberapa ikan pemangsa. Makanan teri hitam (Stolephorus insularis) terdiri dari zooplankton (94%) dan fitoplankton (6%), hal ini preferensi teri hitam terhadap zooplankton sebagai makanan utamanya. Preferensi ini juga ditunjukkan oleh indeks pilihan makanan yang menunjukkan nilai positif untuk makanan zooplankton dan nilai negatif untuk fitoplankton. Jenis makanan yang banyak dimangsa oleh teri hitam adalah Copepoda (50%) dan Malacostraca (27%), telur/larva (9%), nauplius (5%) dan diatom (4%) sedangkan kumulatif plankton lain hanya sebesar 5%. Terdapat korelasi positif antara jumlah zooplankton dalam makanan teri hitam dengan kelimpahan zooplankton di perairan (R2 = 0,643), namun tidak terhadap fitoplankton. Korelasi positif terjadi juga antara jumlah tangkapan teri hitam dengan kelimpahan zooplankton di perairan (R2 = 0,403). Teri (Stolephorus spp.) dimangsa oleh beberapa ikan pemangsa utamanya selar. Proporsi volume teri dalam total makanan selar berkisar antara 77,8% sampai 91,3% denga n frekuensi pemangsaan antara 80% sampai 100%.

PENDAHULUAN
            Bagan adalah salah satu jenis alat tangkap yang menggunakan cahaya sebagai alat bantu penangkapan. Berdasarkan cara pengoperasiannya bagan dapat dikelompokkan sebagai jaring angkat atau liftnet (von Brandt 1985, Hutomo et al. 1987). Salah satu jenis bagan yang banyak dioperasikan oleh masyarakat di Kabupaten Barru Provinsi Sulawesi Selatan adalah bagan rambo. Dikatakan bagan rambo berhubungan dengan ukuran kerangka perahu bagan yang mencapai 32 m x 30 m dan pengggunaan lampu listrik sebagai sumber cahaya dalam kapasitas besar yang dapat mencapai 20.000 watt (Sudirman 2003). Saat ini di perairan Kabupaten Barru telah beroperasi sekitar seratus lebih bagan rambo dengan berbagai macam ukuran.
            Prinsip penangkapan ikan dengan alat tangkap bagan rambo pada dasarnya memanfaatkan tingkah laku ikan, khususnya respon ikan terhadap cahaya. Iluminasi cahaya ke dalam kolom perairan akan mengarahkan ikan-ikan yang bersifat fototaksis positif untuk mendekati sumber cahaya tersebut sehingga memasuki catchable area bagan rambo. Namun demikian, ikan yang masuk di catchable area dimungkinkan juga karena ketersediaan sumber makanan. Kondisi perairan yang lebih terang akan lebih memudahkan ikan untuk menangkap mangsanya. Secara umum dapat dikatakan bahwa terdapat tiga kelompok ikan yang memasuki catchable area bagan rambo yaitu : (1) ikan yang murni bersifat fototaksis positif; (2) ikan yang bertujuan mencari makan; dan (3) ikan yang bersifat fototaksis positif dan bertujuan mencari makan .
            Teri merupakan jenis ikan kecil yang banyak dimangsa oleh ikan-ikan lain, sedangkan teri sendiri memanfaatkan plankton sebagai makanannya. Teri adalah makanan bagi ikan- ikan lain dan merupakan penghubung dalam rantai makanan antara plankton dengan ikan yang lebih besar maka dapat dikatakan teri merupakan salah satu komponen utama dalam ekosistem laut .

METODE DAN BAHAN
Metode Pengambilan Data
Pengambilan data dilakukan dalam dua tahap yaitu tahap pengambilan data lapangan yang berlangsung selama 2 bulan dari akhir bulan Mei sampai dengan awal bulan Juli 2005, dan tahap analisis sampel di laboratorium. Pengambilan data lapangan dilakukan di 8 stasion penelitian pada periode waktu yang berbeda dalam selang waktu satu minggu. Pengambilan data mingguan ini mengikuti saran Margalef (1978) agar dapat mengamati peristiwaperistiwa yang terjadi di alam selama selang waktu tersebut. Lokasi penelitian dilaksanakan di daerah penangkapan ikan (fishing ground) bagan rambo di perairan Kabupaten Barru Provinsi Sulawesi Selatan, pada bagian timur Selat Makassar. Analisis sampel dilakukan di Laboratorium Ekologi Laut Universitas Hasanuddin dan Laboratorium Mikro Biologi Institut Pertanian Bogor.
Pengambilan data lapangan dilakukan pada malam hari dalam waktu dan lokasi yang berbeda mengikuti operasi satu unit bagan rambo dalam selang waktu satu minggu. Penggunaan satu unit bagan rambo dimaksudkan untuk mengetahui alur penangkapan yang dilakukan dan menghindari bias data komposisi hasil tangkapan karena perbedaan faktor pencahayaan bagan rambo. Selang waktu satu
minggu berarti juga mengikuti satu fase bulan, yaitu bulan gelap, bulan seperempat, bulan terang dan bulan tigaperempat. Pada setiap stasion penelitian  dilakukan pengukuran kualitas perairan, pengambilan sampel air untuk pengamatan plankton, pengambilan sampel ikan untuk identifikasi jenis dan analisis interaksi pemangsaan, serta mencatat hasil tangkapan yang disesuaikan dengan waktu hauling. Waktu hauling dibagi menjadi tiga, yaitu hauling I (jam 21:00-22:00), hauling II (jam 01:00-02:00) dan hauling III (jam 04:30-05:00).
Alat dan Bahan Penelitian
Penelitian ini menggunakan beberapa peralatan untuk mengambil sampel air laut, ikan hasil tangkapan, pengukuran beberapa parameter lingkungan dan analisis sampel di laboratorium (Tabel Alat dan bahan penelitian).

Tabel Alat dan bahan penelitian
NO
ALAT DAN BAHAN
FUNGSI

ALAT

1.
1 unit bagan rambo instrumen
kegiatan penelitian
2.
Unit titrasi Winkler
mengukur oksigen terlarut
3.
Salinometer
mengukur salinitas
4.
Termometer
mengukur suhu
5.
Plankton net
mengambil sampel plankton
6.
Pompa air
mengambil sampel plankton di kedalaman
7.
Mistar
ukur mengukur panjang ikan
8.
Botol sampel
menyimpan sampel air dan ikan
9.
Mikroskop
mengamati plankton/material makanan
10.
Peralatan bedah

membedah material isi perut

11.
Pipet
mengambil sampel air
12.
Sedgwick Rafter counting
mencacah plankton
13.
Object glass
mengamati komposisi makanan Teri
14.
GPS
menentukan koordinat lokasi penelitian
15.
Buku identifikasi
mengidentifikasi sampel plankton/ikan

BAHAN

1.
Spesies target
obyek penelitian
2.
Aquades
membuat pengenceran
3.
Formalin 5 %
mengawetkan sampel ikan
4.
Lugol 2 %
mengawetkan sampel plankton

PEMBAHASAN

1.      Kondisi Perairan di Kabupaten Barru
Pengukuran suhu dan salinitas perairan menunjukkan nilai maksimum umumnya terjadi pada hauling III menjelang pagi hari (jam 04:30-05:00). Salinitas maksimum pada hauling III dapat disebabkan kondisi pasang yang terjadi menjelang pagi hari dimana massa air bergerak dari arah lautan dengan salinitas yang lebih tinggi menuju ke arah daratan, sebaliknya salinitas pada hauling I (jam 21:00-22:00) ditemukan salinitas lebih rendah mencapai 28‰, dimana pada waktu ini terjadi surut dan massa air banyak mendapat pengaruh dari massa air daratan utama sehingga salinitasnya lebih rendah. Pada stasion 3, 4 yang terletak lebih jauh dari daratan utama ditemukan kecenderung salinitas lebih tinggi dibandingkan stasion 1, 2, 6, 7 dan 8 yang terletak lebih dekat pantai. Hal ini disebabkan pengaruh masukan massa air dari daratan utama dengan salinitas yang lebih rendah pada stasion dekat pantai utamanya pada stasion 1 dan 8 yang terletak dekat dengan muara sungai. Kecepatan arus yang lebih besar biasanya terjadi pada hauling I yang dapat disebabkan pengaruh angin yang bertiup cukup kencang pada saat itu. Walaupun arus untuk arus daerah dekat pantai umumnya pengaruh pasang surut lebih besar dibandingkan pengaruh angin, namun pengukuran yang dilakukan hanya pada arus permukaan sehingga pengaruh angin dapat lebih dominan. Umumnya arus pada musim barat lebih kencang daripada arus yang terjadi pada musim timur. Hasil pengukuran oksigen terlarut (DO) memperlihatkan nilai yang cukup besar. Konsentrasi DO di perairan ini berada di atas batas minimum untuk mendukung kehidupan di perairan seperti yang disebutkan oleh Prescot (1973) yaitu sebesar 2,0 mgO2/liter.
2.      Komposisi dan Kelimpahan Plankton
Komposisi jenis zooplankton lebih banyak ditemukan dibandingkan fitoplankton, anggota kelompok zooplankton jumlahnya lebih besar dari kelompok fitoplankton. Zooplankton itu sendiri terdiri dari berbagai macam organisme akuatik hewani baik yang bersifat holoplankton seperti Copepoda maupun meroplankton seperti larva ikan, larva moluska dan lain- lain. Selain itu faktor migrasi vertikal zooplankton yang cenderung naik ke permukaan pada malam hari menyebabkan jenis zooplankton lebih banyak ditemukan pada penelitian ini .
Kelimpahan zooplankton secara umum didominasi oleh sub kelas Copepoda, namun demikian terdapat variasi kelimpahan berdasarkan komposisi jenis pada setiap stasion penelitian. Beberapa jenis melimpah pada stasion penelitian tertentu tetapi kemudian tidak ditemukan pada stasion yang lain. Hal ini menunjukkan adanya perkembangan komunitas yang dinamis, sehingga suatu jenis dapat lebih dominan dari yang lainnya pada interval waktu tertentu tetapi kemudian menjadi langka pada interval waktu yang lain. Seperti yang ditunjukkan oleh larva dan telur ikan, ditemukan cukup dominan pada stasion 1, 6, 7 dan 8 tetapi pada stasion 2 dan 4 menjadi langka bahkan pada stasion 3 tidak ditemukan sama sekali. Selain itu sub kelas Malacostraca ditemukan dalam jumlah yang sedikit pada stasion 4 tetapi kemudian dominan stasion 7 dan 8 .
3.      Hasil Tangkapan Ikan
Hasil tangkapan bagan rambo sangat beranekaragam, terdiri dari berbagai spesies. Secara umum jumlah hasil tangkapan didominasi oleh ikan-ikan tangkapan utama seperti teri, kembung, layang, cumi, tembang, japuh, peperek dan selar yang mencapai 88,3% dari total hasil tangkapan, selebihnya adalah ikan lain yang termasuk by-catch dan discard. Jenis ikan tangkapan utama tersebut termasuk ikan demersal dan pelagis yang berukuran kecil yang dimungkinkan karena bagan rambo menggunakan jaring dengan mesh size yang berukuran kecil. Keanekaragaman jenis tangkapan dapat dikatakan sebagai konsekuensi dari fishing ground di daerah tropis yang memiliki variasi jenis ikan yang lebih banyak dibandingkan daerah lain. By-cath dapat diartikan sebagai hasil tangkapan samp ingan dan masih bernilai ekonomis. Termasuk kelompok ini dalam hasil tangkapan bagan rambo adalah kwee (Caranx), alu-alu (Sphyraena), baronang (Siganus), bambangan (Lutjanus) dan beberapa jenis ikan lain. Discard adalah hasil tangkapan sampingan yang tidak bernilai ekonomis dan biasanya dibuang kembali ke laut karena tidak dimanfaatkan. Termasuk dalam kelompok ini adalah buntal (Diodon, Arothron), beseng-beseng (Apogon) dan lain- lain. Berdasarkan pengamatan di lapangan, jumlah hasil tangkapan sampingan yang termasuk discard hampir ditemukan setiap waktu hauling tetapi dalam jumlah yang sangat sedikit atau dapat dikatakan hampir semua tangkapan bagan rambo dimanfaatkan. Jumlah hasil tangkapan yang diperoleh dapat dijadikan gambaran besarnya schooling ikan yang masuk pada catchable area bagan rambo.
Jenis dominan yang paling banyak ditangkap adalah teri (Stolephorus) yang mencapai 28,8% dari total total hasil tangkapan. Terdapat variasi hasil tangkapan teri pada setiap stasion penelitian. Tangkapan yang relatif besar ditemukan pada stasion 3, 6 dan 7. Pada stasion ini kelimpahan zooplankton juga ditemukan relatif tinggi. Terdapat dugaan bahwa hasil tangkapan teri berhubungan dengan kelimpahan zooplankton pada saat itu, dengan pertimbangan bahwa salah satu tujuan teri memasuki catchable area bagan rambo adalah untuk mencari makan dan makanan teri adalah zooplankton, dimana kondisi perairan yang lebih terang karena cahaya lampu bagan rambo menjadi daya tarik dalam membantu teri untuk menangkap mangsanya. Hal ini juga berkaitan dengan migrasi verikal zooplankton yang berada disekitar permukaan perairan pada saat malam hari. Namun demikian, proses ini tidak sesederhana penjelasan di atas dan masih terdapat faktor-faktor lain yang bersama-sama memberi pengaruh dalam menentukan jumlah tangkapan teri oleh bagan rambo. Korelasi positif hasil tangkapan teri dengan kelimpahan zooplankton di perairan menunjukkan bahwa kelimpahan zooplankton di perairan memberikan kontribusi terhadap jumlah hasil tangkapan sebanyak 40,3%; selain itu masih terdapat faktor- faktor lain yang tidak terukur dalam penelitian ini. Faktor lain tersebut diduga adalah kondisi fisik-kimia perairan dan pencahayaan bagan rambo, diduga memberikan kontribusi dalam menentukan variasi jumlah tangkapan. Selain itu faktor teknis penangkapan seperti pelolosan ikan pada saat proses hauling dapat juga memberi pengaruh jumlah hasil tangkapan. Oleh karena itu perlu dikaji lebih lanjut sejauh mana pengaruh kondisi fisik-kimia perairan dan teknis penangkapan terhadap hasil tangkapan ikan bagan rambo.

4.      PEMANGSAAN

Individu-individu mahkluk hidup dihubungkan oleh adanya interaksi makan-memakan. Interaksi ini terjadi karena individu-individu memiliki keinginan untuk selalu ingin hidup dan berjuang untuk memanfaatkan sumberdaya yang ada untuk mempertahankan jenisnya, (Ediyono et al. 1999 diacu oleh Sudirman 2003). Selanjutnya dikatakan bahwa semua mahkluk hidup yang hidup bersama-sama pada suatu habitat atau ekosistem yang sama akan berinteraksi satu dengan lainnya. Interaksi yang terjadi dapat bersifat menguntungkan (mutualisme dan komensalisme), merugikan (predasi, kompetisi, parasitisme) atau bersifat netral yang tidak saling mengganggu antar populasi walaupun berada dalam habitat yang sama dan memiliki kebutuhan yang sama karena tercukupinya kebutuhan. Effendie (1997) mengungkapkan bahwa jika ditelaah makanan ikan sejak dari awal pembentukannya sampai ke makanan yang dimakan oleh ikan, sebenarnya merupakan rantai makanan (food chain). Fitoplankton dapat memproduksi bahan organik dari bahan anorganik (produsen primer) yang dimangsa oleh zooplankton (konsumer primer) dan selanjutnya zooplankton akan dimangsa oleh ikan kecil seperti teri sebagai (konsume r sekunder) dan teri akan dimangsa juga oleh ikan yang lebih besar dari trofik level yang lebih tinggi. Dapat juga interaksi makan-pemakan terjadi tumpang tindih, dimana satu jenis produsen dimangsa oleh beberapa jenis konsumen dan satu jenis konsumen memakan beberapa jenis makanan sehingga terbentuk suatu jaringan makanan (food webs). Hal ini juga ditunjukkan dalam penelitian ini, dimana teri selain memangsa zooplankton juga memangsa fitoplankton, selain itu teri sebagai produsen juga dimangsa oleh beberapa jenis ikan pemangsa seperti selar, peperek, buntal, kwee dan ikan-ikan lain.
4.A. Pemangsaan teri hitam (Stolephorus insularis) terhadap plankton
Kelimpahan teri selain disebabkan oleh faktor lingkungan juga oleh ketersediaan makanannya di perairan. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa makanan teri jenis Stolephorus insularis keseluruhannya adalah plankton. Berdasarkan analisis indeks pilihan makanan terlihat bahwa kecenderungan Stolephorus insularis lebih banyak memilih zooplankton dari pada fitoplankton utamanya zooplankton dari kelompok Copepoda, Malacostraca, Polychaeta, Nauplius dan Branchiopoda. Hal ini menunjukkan tingkat preferensi Stolephorus insularis terhadap makanannya yang lebih menyukai zooplankton daripada fitoplankton. Hutomo et al. (1987) menyatakan bahwa teri termasuk ikan bersifat selective feeder yang memanfaatkan jenis-jenis makanan yang menjadi kesukaannya dan sesuai dengan kebutuhannya. Preferensi makanan Stolephorus spp. terhadap zooplankton juga disebutkan oleh Burhanuddin et al. (1975) yang memeriksa komposisi makanan teri jenis Stolephorus devisi dan mendapatkan Copepoda dan fragmen crustacea lain sebagai kelompok dominan yang banyak ditemukan.
Selain itu Hauhamu (1995) pada jenis Stolephorus spp. dan Sudirman (2003) pada teri jenis Stolephorus insularis serta beberapa penelitian lainnya mendapatkan hasil yang sama. Pemangsaan fitoplankton oleh teri kemungkinan lebih disebabkan karena keberadaan fitoplankton di perairan dalam kelimpahan yang besar, sehingga lebih memudahkan teri memangsa fitoplankton. Hal ini lebih jelas jika melihat komposisi makanan dari kelompok fitoplankton yang banyak ditemukan adalah kelas Bacillorophyceae, sedangkan kelas Bacillorophyceae itu sendiri merupakan komponen utama plankton di perairan. Kelas Bacillorophyceae yang dominan ditemukan adalah dari genus Chaetoceros, Coscinodiscus, Leptocylinricus dan Rhizosolenia. Hasil yang hampir sama diperoleh oleh Sumadhiharga (1978) dan Manuhutu (1988) pada penelitiannya di Teluk Ambon yang melaporkan bahwa dalam lambung Stolephorus spp. ditemukan fitoplankton dari genus Trichodesmium, Coscinodiscus dan Rhizosollenia. Penelitian ini menunjukkan bahwa hasil tangkapan teri banyak dipengaruhi faktor ketersediaan makanan (pemangaan teri terhadap zooplankton), namun kesimpulan sementara ini perlu dikaji lebih jauh. Penelitian selanjutnya diharapkan mengkaji hubungan hasil tangkapan dengan faktor lain yang diduga mempengaruhi hasil tangkapan seperti kondisi perairan, pencahayaan lampu bagan rambo dan beberapa faktor lain.
4.B. Pemangsaan teri (Stolephorus spp.) oleh ikan pemangsa
Keberadaan teri dalam food web di lautan sangat penting karena merupakan penghubung antara plankton dengan ikan-ikan lain. Teri sebagai konsumer tingkat pertama akan dimangsa oleh ikan kecil sebagai konsumer tingkat kedua yang selanjutnya dimangsa lagi oleh ikan- ikan pada trofik level yang lebih tinggi sampai pada top konsumer sehingga terbentuk rantai makanan. Dapat juga terjadi teri dimangsa oleh ikan pada tingkat trofik leve l lain sehingga terbentuk suatu jaringan makanan dan terjadi tumpang tindih relung makanan. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa teri dimangsa oleh beberapa jenis predator yang masuk pada catchable area bagan rambo. Hal ini dapat diartikan bahwa kedatangan ikan-ikan tertentu pada area penangkapan bagan rambo selain disebabkan oleh ketertarikan ikan oleh cahaya lampu, juga karena keberadaan teri sebagai daya tarik ikan lain. Kesimpulan ini didasarkan pada hasil pemerikasaan isi perut pada beberapa jenis ikan hasil tangkapan dimana ditemukan teri sebagai organisme makanan yang dominan. Analisis isi perut dalam penelitian ini hanya dilakukan pada beberapa jenis ikan tangkapan utama yaitu selar dan peperek secara kontinyu sehingga tidak bisa menjelaskan interaksi pemangsaan teri oleh ikan- ikan lain seperti kembung, layang, cumi, tembang, dan beberapa ikan jenis lain yang masuk di catchable area bagan rambo. Namun demikian, berdasarkankan uji korelasi antara hasil tangkapan teri dengan beberapa kelompok ikan yang tertangkap oleh bagan rambo terlihat bahwa hasil tangkapan teri secara signifikan berkorelasi dengan tangkapan layang, tembang, peperek, selar dan ikan lain.
Hasil pemeriksaan isi perut juga menunjukkan beberapa jenis ikan yang masuk dalam kelompok ikan lain yang diketahui secara pasti melakukan aktivitas pemangsaan terhadap teri selama berada di catchable area bagan rambo adalah alu-alu, buntal, kwee, kerong-kerong, bambangan dan lencam. Namun pemeriksaan ini tidak dilakukan secara kont inyu selama penelitian karena jenis ikan-ikan tersebut hanya tertangkap pada periode tertentu. Penelitian lebih lanjut diharapkan dapat memeriksa secara kontinyu semua jenis ikan yang tertangkap oleh bagan rambo sehingga diketahui dengan baik motivasi kedatangannya pada catchable area bagan rambo apakah karena mencari makan, faktor cahaya atau faktor lain.
Hasil analisis statistik juga memperlihatkan bahwa semakin banyak teri yang masuk di catchable area bagan rambo maka semakin banyak pula teri dimangsa oleh ikan-ikan pemangsa. Hal ini disebabkan kemudahan ikan-ikan pemangsa untuk menangkap mangsanya. Selain itu jika melihat dalam skala yang lebih luas maka hal ini juga menunjukkan sifat ikan-ikan pemangsa untuk memanfaatkan potensi sumberdaya untuk memenuhi kebutuhan makanannya yang secara maksimal. Secara umum keberadaan teri pada catchable area bagan rambo mempunyai peran yang sangat penting atas kehadiran ikan-ikan pemangsa, sehingga populasi ikan teri di daerah fishing ground akan sangat menentukan populasi ikan-ikan lainnya. Ditinjau dari segi kelestarian ikan- ikan lain seperti selar dan peperek di fishing ground tersebut maka populasi ikan teri perlu dipertahankan.
Hal yang menarik, kaitannya pemangsaan teri oleh ikan pemangsa dengan penangkapan teri oleh manusia (nelayan) terdapat suatu kompetisi tidak langsung antara ikan pemangsa dengan nelayan dalam pemanfaatan sumberdaya yang sama. Eksploitasi secara berlebihan teri oleh nelayan akan mengurangi sumber makanan bagi ikan-ikan lain dan dapat mempengaruhi pertumbuhannya yang akhirnya akan mengurangi potensi sumberdaya perikanan untuk kebutuhan manusia itu sendiri. Oleh karena itu perlu pengkajian lebih lanjut terhadap persaingan secara tidak langsung antara ikan pemangsa teri dengan nelayan serta bagaimana dampaknya terhadap potensi sumberdaya teri tersebut maupun kedua kompetitor itu sendiri. Pengelolaan perikanan tangkap haruslah berkesinambungan yaitu dengan mempertimbangan keseimbangan potensi sumberdaya yang ada. Menurut Kaswadji (2006 komunikasi pribadi) disebutkan bahwa keseimbangan potensi suatu sumberdaya perikanan secara umum tergantung dari 2 faktor, yaitu (1) faktor yang dapat menambah stok ikan (input) yaitu rukruitmen dan pertumbuhan; dan (2) faktor yang dapat mengurangi stok ikan (output) yaitu mortalitas alami dan penangkapan. Stok ikan akan mengalami penurunan jika faktor input lebih kecil dari output, sebaliknya jika input lebih besar dari output maka terjadi surplus stok ikan. Pemanfaatan yang optimal terjadi jika input seimbang dengan output.
Rukruitmen, pertumbuhan dan mortalitas ikan merupakan proses alami dan sangat sulit dikontrol oleh manusia, sedangkan penangkapan merupakan faktor yang dapat dikontrol. Dengan demikian pengelolaan perikanan tangkap yang berkesinambungan akan lebih bijaksana jika dilakukan dengan pengaturan sistem penangkapan.

KESIMPULAN
Terjadi interkasi pemangsaan teri selama proses penangkapan ikan dengan bagan rambo, dimana teri memangsa plankton dan dimangsa oleh beberapa ikan pemangsa. Komposisi makanan teri hitam (Stolephorus insularis) terdiri dari zooplankton (94%) dan fitoplankton (6%) yang menunjukkan preferensi teri hitam yang lebih memilih zooplankton sebagai makanan utamanya. Hal ini juga ditunjukkan oleh indeks pilihan makanan yang menunjukkan nilai positif untuk makanan zooplankton dan nilai negatif untuk fitoplankton. Jenis makanan yang banyak dimangsa oleh teri hitam yaitu Copepoda (50%) dan Malacostraca (27%), telur/larva (9%), nauplius (5%) dan diatom (4%) sedangkan kumulatif plankton lain hanya sebesar 5%. Terdapat korelasi positif antara jumlah zooplankton dalam makanan teri hitam terhadap kelimpahan zooplankton di perairan dengan koefesien determinasi (R2) sebesar 0,643, tetapi tidak terhadap fitoplankton. Selain itu terdapat korelasi positif antara jumlah tangkapan teri hitam dengan kelimpahan zooplankton di perairan dengan nilai koefesien determinasi (R2) sebesar 0,403.
Teri (Stolephorus spp.) dimangsa oleh beberapa ikan pemangsa seperti peperek, selar, alu-alu, buntal, kwee, kerong-kerong, bambangan dan lencam. Proporsi valome teri dalam total makanan peperek dan selar diatas 50% pada semua stasion penelitian, juga menunjukkan korelasi positif dengan jumlah tangkapan teri saat itu, dengan nilai koefesien determinasi masing-masing sebesar 0,192 dan 0,681. Selain itu jumlah tangkapan teri berkorelasi dengan jumlah tangkapan layang, tembang, peperek, selar dan ikan lain.


DAFTAR PUSTAKA
Effendie MI. 1979. Metoda Biologi Perikanan. Bogor. Yayasan Dwi Sri. 112 hal.
Effendie MI. 1997. Biologi Perikanan. Yogyakarta. Yayasan Pustaka Nusatama.
163 hal.
Ediyono SH, Hendrawad DI, Nugroho AS, dan Yusuf M. 1999. Prinsip-prinsip Lingkungan dalam Pembangunan Berkelnjutan. Jakarta. Dirjen Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 196 hal.
Hauhamu S. 1995. Hubungan antara Kelimpahan Ikan Teri (Stolephrus spp.) dengan Kelimpahan Plankton [Tesis]. Bogor. Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. 107 hal.
Manuhutu R. 1988. Studi Biologi Ikan Puri Putih (Stolephorus indicus) dengan Penekanan pada Pertumbuhan dan Makanan di Sekitar Perairan Paperu, Teluk Saparua. Ambon. Fakultas Perikanan. Universitas Pattimura. 75 hal.
Margalef R. 1978. Sampling Design; some Examples. Phytoplankton Manual. Monogragraf on Oceanographyc Methodology. Paris. UNESCO. hal 17–31.
Sudirman. 2003. Analisis Tingkah Laku Ikan untuk Mewujudkan teknologi Ramah Lingkungan dalam Proses Penangkapan pada Bagan Rambo [Desertasi]. Bogor. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. 307 hal.
Sumadiharga OK. 1978. Beberapa Aspek Biologi Ikan Puri Stolephorus heterolobus (Rupello) di Teluk Ambon. Ambon. Jurnal Oseanologi Indonesia. hal 29-41.
von Brandt A. 1985. Fish Catching Methods of the World. Third Edition. Farnham. Fishing News Books Ltd. 418 hal.